<a href=http://zawa.wordpress.com>Zawa Clocks</a>

Pages

RSS

Jumat, 13 Januari 2012

Membaca Menulis Permulaan

BAB II
PEMBAHASAN

1.1 Pengertian MMP
      MMP merupakan kependekan dari Membaca Menulis Permulaan. Sesuai dengan kepanjangannya itu, MMP merupakan program pembelajaran yang diorientasikan kepada kemampuan membaca dan menulis permulaan di kelas-kelas awal pada saat anak-anak mulai memasuki bangku sekolah. Pada tahap awal anak memasuki bangku sekolah di kelas satu sekolah dasar , MMP meruakan menu utama. Peralihan dari masa bermain di TK (bagi anak-anak yang mengalaminya) atau dari lingkungan rumah (bagi anak yang tidak menjalani masa TK) ke dunia sekolah merupakan hal baru bagi anak. Hal pertama yang diajarkan kepada anak pasa awal-awal masa persekolahan tersebut adalah kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan ini akan menjadi landasan dasar bagi pemerolehan bidang-bidang ilmu lainnya di sekolah.
1.1.1 Pengertian Membaca
                  Menurut W.J.S. poerwodarminto (1976:71) Membaca yaitu melihat sambil melisankan suatu tulisandengan tujuan ingin mengetahui isinya. Sedangkan menurut Hendri Guntur Tarigan menggungkapkan membaca yaitu proses pemorolehan pesan yang disampaikan oleh seorang penulis melalui tulisan. Pendapat lain dikemukakan oleh A.S.Broto membaca yaitu mengucapkan lambing bunyi dapat disimpilkan bahwa yang dimaksud membaca yaitu proses pengucapan tulisan untuk mendapatkan isi yang terkandung didalamnya.
1.1.1.1 Tujuan membaca
1.      Membaca dapat membantu memecahkan masalah
2.      Memperkuat suatu keyakinan atau kepercayaan pembaca.
3.      Sebagai suatu pelatihan.
4.      Member pengalaman estetis.
5.      meningkatkan perstasi.
6.      Memperluas pengetahuan.
1.1.1.2  Jenis-jenis membaca
1.      Membaca teknik.
2.      Membaca dalam hati.
3.      Membaca bahasa.
4.      Membaca pustaka.
5.      Membaca cepat.
6.      Membaca indah (estetika)
1.1.2 Pengertian Menulis
         Menulis adalah melahirkan pikiran atau gagasan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1993:968). Menurut pengertian ini menulis merupakan hasil, yaitu melahirkan pikiran dalam perasaan ke dalam tulisan. Menulis atau mengarang adalah proses menggambarkan suatu bahasa sehingga pesan yang disampaikan penulis dapat dipahami pembaca (Tarigan, 1986:21).
1.1.1.1 Tujuan Menulis       
1. Tujuan Penugasan
     Penulis tidak memiliki tujuan untuk apa dia menulis. Penulis hanya menulis, tanpa mengetahui tujuannya. Dia menulis karena mendapat tugas, bukan atas kemauan sendiri. Misalnya siswa ditugaskan merangkum sebuah buku atau seorang guru disuruh membuat laporan oleh Kepala Sekolahnya.
2. Tujuan Altruistik
     Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca koma, menghindarkan kedukaaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahmi, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu. Penulis harus berkeyakinan, bahwa pembaca dalah ”teman” hidupnya. Sehingga penulis benar-benar dapat mengkomunikasikan suati idea tau gagasan bagi kepentingan pembaca. Hanya dengan cara itulah tujuan altruistic dapat tercapai.
3. Tujuan Persuasif
     Penulis bertujuan memnpengaruhi pembaca, agar pembaca yakin akan kebenaran gagasan atau ide yang dituangkan atau diutarakan penulis. Tulisan semacam ini banyak dipergunakan oleh para penulis untuk menawarkan sebuah produksi barang dagangan, atau dalam kegiatan politik.
4. Tujuan Informasioanl (Tujuan Penerangan)
     Penulis menuangkan idea tau gagasan dengan tujuan member informasi atau keterangan kepada pembaca. Di sini penulis berusaha menyampaikan informasi agar pembaca menjadi tahu mengenai apa yang diinformasikan oleh penulis.
5. Tujuan Pernyataan Diri
     Penulis berusaha untuk memperkenalkan atau menyatakan dirinya sendiri kepada para pembaca dengan melalui tulisannya, pembaca dapat memahami “siapa” sebenarnya penulis itu.
6. Tujuan Kreatif
     Penulis bertujuan agar para pembaca, dapat memiliki nilai artistic atau nilai-nilai kesenian dengan membaca tulisan si penulis. Di sini bukan hanya memberikan informasi, melainkan lebih dari itu. 
7.   Tujuan Pemecahan Masalah
     Penulis berusaha memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Dengan tulisannya, penulis berusaha member kejelasan kepada para pembaca tentang bagaimana cara pemecahan suatu masalah.

1.2 Pembelajaran MMP
1.2.1 Pembelajaran Membaca
Pembelajaran memabaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut (Akhadiah, 1991/1992: 31). Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar membaca (learning to read). Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan.Tingkatan ini disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn). Kedua tingkatan tersebut bersifat kontinum, artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus kegiatannya penguasaan sistem tulisan, telah dimulai pula pembelajaran membaca lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas. Demikian juga pada membaca lanjut menekankan pada pemahaman isi bacaan, masih perlu perbaikan dan penyempurnaan penguasaan teknik membaca permulaan (Syafi’ie,1999: 16).
Adapun standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya aspek membaca, untuk SD dan MI adalah “membaca huruf, suku kata, kata, kalimat, paragraph, berbagai teks bacaan, denah, petunjuk, tata tertib, pengumuman, kamus, ensiklopedia, serta mengapresiasikan dan berekspresi sastra melalui kegiatan membaca hasil sastra berupa dongeng, cerita anak-anak, cerita rakyat, cerita binatang, puisi anak, syair lagu, pantun dan drama anak. Kompetensi membaca juga diarahkan menumbuhkan budaya baca”.
Standar kompetensi aspek membaca di kelas satu sekolah dasar adalah siswa mampu membaca dan memahami teks pendek dengan cara membaca lancar (bersuara) dan membaca nyaring beberapa kalimat sederhana. Standar kompetensi ini diturunkan ke dalam empat buah kompetensi dasar, yakni:
1.      Membiasakan sikap membaca yang benar.
2.      Membaca nyaring.
3.      Membaca bersuara (lancar).
4.      Membacakan penggalan cerita.
1.2.2 Pembelajaran Menulis                                                         
         Kemampuan menulis permulaan tidak jauh berbeda dengan kemampuan membaca permulaan. Pada tingkat dasar atau permulaan, pembelajaran menulis lebih diorientasikan pada kemampuan yang bersifat mekanik. Anak-anak dilatih untuk dapat menuliskan (mirip dengan kemampuan melukis atau menggambar) lambang-lambang tulis yang jika dirangkaikan dalam sebuah struktur , lambang-lambang itu menjadi bermakna. Selanjutnya dengan kemampuan dasar ini, secara perlahan-lahan anak-anak digiring pada kemampuan menuangkan gagasan, pikiran, perasaan, ke dalam bentuk bahasa tulis melalui lambang-lambang tulis yang dikuasainya. Inilah kemampuan menulis yang sesungguhnya.
         Untuk kemampuan menulis di kelas satu (kelas rendah), Kurikulum 2004 menetapkan standar kompetensi sebagai berikut. Siswa mampu menulis beberapa kalimat yang dibuat sendiri dengan huruf lepas dan huruf sambung, menulis kalimat yang didiktekan guru, dan menulis rapi menggunakan huruf sambung. Standar kompetensi ini diturunkan ke dalam tiga buah kompetensi dasar, yakni:
1.      Membiasakan sikap menulis yang benar (memegang dan mnggunakan alat tulis).
2.      Menjiplak dan menebalkan.
3.      Menyalin.
4.      Menulis permulaan.
5.      Menulis beberapa kalimat dengan huruf sambung.
6.      Menulis kalimat yang didiktekan guru.
7.      Menulis dengan huruf sambung.

1.3 Metode Pembelajaran MMP
1.3.1 Metode Membaca Permulaan
         Metode adalah cara yang telah teratur dan terpilih secara baik untuk mencapai suatu maksud, cara mengajar (KBB,1984: 649). Sedangkan yang dimaksud dengan membaca permulaan adalah pengajaran membaca awal yang diberikan kepada siswa kelas satu dengan tujuan agar siswa terampil membaca serta mengembangkan pengetahuan bahasa dan keterampilan bahasa guna menghadapi kelas berikutnya.
Dalam pembelajaran membaca permulaan, ada berbagai metode yang dapat dipergunakan , antara lain (1) metode abjad (2) metode bunyi (3) metode kupas rangkai suku kata (4) metode kata lembaga (5) metode global dan (6) metode Struktual Analitik Sinteksis (SAS). (Alhkadiah,1992: 32-34).
1.      Metode Abjad dan Metode Bunyi
Menurut Alhkadiah, kedua metode ini sudah sangat tua. Menggunakan kata-kata lepas, misalnya:
Metode Abjad: bo-bo à bobo
                          la-ri   à lari
Metode Bunyi: na-na à nana
                          lu-pa à lupa
2.      Metode Kupas Rangkai Suku Kata dan Metode Kata Lembaga
Kedua metode ini menggunakan cara mengurai dan merangkaiakan. Misalnya:
Metode Kupas Rangkai Suku Kata: ma ta-ma ta
                                                          pa pa-pa pa
Metode Kata Lembaga                   : bola-bo-la-b-o-l-a-b-o-l-a-bola
3.      Metode Global
Metode global timbul sebagai akibat adanya pengaruh aliran psikologi gestalt, yang berpendapatbahwa suatu kebulatan atau kesatuan akan lebih bermakna daripada jumlah bagian-bagiannya. Memperkenalkan kepada siswa beberapa kalimat untuk dibaca.
4.      Metode SAS
Metode ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu: (1) tanpa buku (2) menggunakan buku. Memgenai itu, Momo (1987) mengemukakan beberapa cara, yaitu:
1.      Tahap tanpa Buku, dengan cara:
- Merekam bahasa siswa.
- Menampilkan gambarsambil bercerita.
- Membaca gambar.
- Membaca gambar dengan kartu kalimat.
- Membaca kalimat secara struktural (S).
- Proses analitik (A).
- Proses sintetik (S).
2.   Tahap dengan Buku, dengan cara:
      - Membaca buku pelajaran.
- Membaca majalah bergambar.
- Membaca bacaan yang disusun oleh guru dan siswa.
- Membaca buku yang disusun oleh siswa secara berkelompok.
- Membaca buku yang disusun oleh siswa secara individual.
Metode ini yang dipandang paling cocok dengan jiwa anak atau siswa adalah metode SAS menurut Supriyadi dkk (1992). Alasan mengapa metode SAS ini dipandang baik adalah:
-          Metode ini menganut prinsip ilmu bahasa umumbahwa bentuk bahasa terkecil adalah kalimat.
-          Metode ini memperhitungkan pengalaman bahasa anak.
-          Metode ini menganut prinsip menemukan sendiri.
Kelemahan metode SAS, yaitu:
-          Kurang praktis.
-          Membutuhkan banyak waktu
-          Membutuhkan alat peraga
1.3.2 Metode Menulis Permulaan
1. Metode Eja
        Metode eja di dasarkan pada pendekatan harfiah, artinya belajar membaca dan menulis dimulai dari huruf-huruf yang dirangkaikan menjadi suku kata. Oleh karena itu pengajaran dimulai dari pengenalan huruf-huruf. Demikian halnya dengan pengajaran menulis di mulai dari huruf lepas, dengan langka-langkah sebagai berikut:
1). Menulis huruf lepas.
2). Merangkaikan huruf lepas menjadi suku kata.
3). Merangkaikan suku kata menjadi kata.
4). Menyusun kata menjadi kalimat. (Djauzak, 1996:4)
2. Metode Kata Lembaga
Metode kata lembaga di mulai mengajar dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1). Mengenalkan kata
2). Merangkaikan kata antar suku kata
3). Menguraikan suku kata atas huruf-hurufnya
4). Menggabungkan huruf menjadi kata (Djauzak, 1996:5)
3. Metode Global
Metode global memulai pengajaran membaca dan menulis permulaan dengan membaca kalimat secara utuh yang ada di bawah gambar. Menguraikan kalimat dengan kata-kata, menguraikan kata-kata menjadi suku kata (Djauzak, 1996:6).
4. Metode SAS
Menuryut (Supriyadi, 1996: 334-335) pengertian metode SAS adalah suatu pendekatan cerita di sertai dengan gambar yang didalamnya terkandung unsur analitik sintetik. Metode SAS menurut (Djuzak,1996:8) adalah suatu pembelajaran menulis permulaan yang didasarkan atas pendekatan cerita yakni cara memulai mengajar menulis dengan menampil cerita yang diambil dari dialog siswa dan guru atau siswa dengan siswa. Teknik pelaksanaan pembelajaran metode SAS yakni keterampilan menulis kartu huruf, kartu suku kata, kartu kata dan kartu kalimat, sementara sebagian siswa mencari huruf, suku kata dan kata, guru dan sebagian siswa menempel kata-kata yang tersusun sehingga menjadi kalimat yang berarti (Subana). Proses operasional metode SAS mempunyai langkah-lagkah dengan urutan sebagai berikut:
1.   Struktur yaitu menampilkan keseluruhan.
2.   Analitik yatu melakukan proses penguraian.
3.   Sintetik yaitu melakukan penggalan pada struktur semula.
Demikian langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam pembelajaran menulis permulaan dengan metode SAS, sehingga hasil belajar itu benar-benar menghasilkan struktur analitik sintetik (Subana:176).

0 komentar:

Poskan Komentar